Gunung Selamet Via Guci

Panasnya Jakarta tak menyurutkan langkahku dan teman perjalanku untuk menuju stasiun Gambir. Pukul 15.00 WIB kami brangkat dari Cartenz Depok dan tiba di stasiun Gambir Pukul 16.10 WIB , Kami langsung membeli tiket kelas bisnis tujuan Tegal yang akan berangkat pada Pukul 18.30 WIB , cukup lama kami menunggu sampai akhirnya kereta api yang dinanti – nanti datang juga . Tak sampai 5 jam kami sampai di stasiun Tegal , beruntung rekan perjalanku mempunyai teman di kota Tegal jadi setibanya di stasiun kami dijemput menggunakan kendaraan pribadi menuju penginapannya.
Udara pukul 05.10 WIB pagi kota Tegal sangat dingin , tapi aku paksakan untuk bangun , mandi , kemudian bersiap – siap tuk melakukan perjalanan ke Guc i. Dari kota Tegal menuju Guci kira – kira membutuhkan waktu 1 jam , sesampainya di Guci kami disambut hangat oleh 11 orang pendaki dari Jakarta yang memang dari awal janjian untuk bertemu di Guci. Pukul 15.00 pendakian Gunung tertinggi di Jawa Tengah, Gunung Slamet dimulai .
.Track pertama adalah jalan berbatu yang cukup lebar dengan rerumputan dan pohon pinus di kiri - kanan jalur sungguh pemandangan yang indah . Jalur berubah menjadi jalan setapak, yang memang hanya cukup untuk setapak , pukul 16.15 kami sampai di Pos I , Pondok Pinus (1587 mdpl) , Kami istirahat sebentar , lalu melanjutkan perjalanan . Jalurnya masih sama , berupa jalan sempit dengan rerumputan di kanan - kirinya, namun vegetasinya semakin lebat dan benar-benar telah memasuki hutan. Tumbuhan - tumbuhan di hutan Gunung Slamet ini membentuk kanopi yang rapat , sehingga hanya sedikit cahaya matahari yang berhasil menerobos hingga dasar hutan . Dua jam kemudian kami sampai di Pos II , Pondok Cemara (1954 mdpl) . Hari mulai gelap Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke pos III untuk berkemah . Pos II ke Pos III adalah track terpendek, hanya sekitar 45 menit namun karena tubuh kami sudah sangat lelah perjalanan menuju pos III membutuhkan waktu 1 jam . Setibanya di Pos III Pondok Pasang (2129 mdpl) , kami langsung memasang tenda , masak , makan kemudian tidur .
Udara dingin membuat kami tak ingin keluar tenda padahal sudah pukul 06.00 WIB karena hujan sepanjang malam. Pukul 06.30 WIB rutinitas mulai dilakukan , ada yang masak , bongkar tenda , packing tanpa harus dikomando semua sudah tahu pekerjaannya masing – masing . Pukul 11.00 WIB perjalanan dimulai kembali menuju Pelawangan . Jalanan setapak yang semakin menanjak tak menyurutkan langkah Kami yang masih mempunyai banyak tenaga , Santai sekali kaki – kaki ini melangkah hingga tiba di pos IV Pondok Kemutus (2587 mdpl) pukul 12.30 , kami berhenti sejenak untuk minum dan makan wafer serta roti untuk menambah tenaga , tidak sampai 15 menit perjalanan dilanjutkan , banyak sekali pohon tumbang dan akar – akar yang menutupi jalur sehingga mengharuskan kami menunduk bahkan merangkak , 30 menit kemudian kami sampai di Pondok Edlweiss, istirahat sejenak tak lebih dari 5 menit langsung tancap gas menuju Pelawangan . Kaki sudah sangat gontai berjalan , karena track yang ditempuh berupa tanjakan yang sedikit sekali landainya. Perut kami sudah berpoco – poco ria , tenagapun sudah memberikan sinyal merah padahal pasir gunung Selamet sudah terlihat namun rasanya jauh sekali . Sekitar 30 menit akhirnya kami tiba di Pelawangan, panas sekali rasanya kami langsung buru – buru mendirikan tenda . Dari awal perjalanan kami sampai disini kami sama sekali tidak bertemu dengan pendaki lain , disinipun hanya tenda kami sebanyak 4 tenda yang berdiri. Karena hari masih sore dan cuaca sangat cerah kami memutuskan untuk berfoto ria sembari menunggu sunset . Puas berfoto ria kami kembali ke tenda , ada yang masak , bermain kartu uno ataupun cerita – cerita . Tak terasa malam semakin larut waktunya untuk tidur .
Pukul 03.00 WIB waktunya summit attack , hanya 1 tas yang kami bawa berisi air hangat dan cemilan . Kami mulai menapaki pasir , batu - batu dan karang - karang yang jika tidak hati – hati akan terpeleset bahkan batunya berjatuhan. Setiap melangkah , pijakan akan merosot beberapa senti, dan begitu seterusnya sampai akhir tanjakan pasir ini . Track selanjutnya adalah pasir campur kerikil yang licin harus mencari pijakan yang nyaman dan aman , karena kontur tanahnya yang tak beraturan . Memang jalur cukup luas , kanan kiri tidak langsung jurang , tapi kalau sampai jatuh maka bisa terguling sampai jurang . Akhirnya track licin ini terlewati , track terakhir adalah pasir , ini benar -benar berat . 5 langkah berhenti kemudian istirahat , begitu seterusnya karena otot – otot kaki kami sudah tak bisa dikompromi . Setelah perjalanan yang begitu sulit dan berat akhirnya kami tiba di puncak Selamet (±3410 mdpl)

Disini kami bisa memilih mau pemandian air panas yang gratis , bayar Rp. 1.000 atau Rp 5.000 tentunya semakin tinggi harganya semakin nyaman fasilitas yang didapat . Segar sekali rasanya setelah melakukan perjalanan yang menguras banyak tenaga berendam air panas . sendi – sendi yang sempat tegang rasanya mulai mengendur . Pukul 18.00 WIB waktunya kami kembali ke Jakarta , berhubung hari sudah malam kami memutuskan untuk pulang keesokan harinya , Mas hendy salah satu dari tim kami yang ternyata juga customer cartenz menawari kami untuk menginap dirumahnya , kamipun menyetujuinya dan langsung naik ke mobil mas Hendy , sesampainya dirumah mas Hendy ternyata hidangan sudah tersedia kami bergegas makan karena sudah lapar sekali , sedap sekali masakan istrinya. Keesokan harinya kami pulang ke Jakarta.
Terima Kasih Gunung Selamet yang mengajarkan kami
Arti Persaudaraan

Arti Kekeluargaan

Arti Kebersamaan

Arti Perjuangan

Arti Sebuah Keberhasilan

by dewi cartenz depok
JAKARTA 2 (DEPOK)
Phones: (021) 87704273, 08886763111, 08886717551